PDAM Wajo Sudah Punya Dirut Baru Tapi Airnya Tetap Ngadat

Rani
1 Jan 2026 07:32
Headline News 0 251
2 menit membaca

 

Banner Promosi WiFi

nurani-news.com — Wajo, Kabar baik datang dari ruang terbuka pelantikan, tapi kabar kurang baik masih bertahan di dapur warga.

Bupati Wajo Andi Rosman resmi melantik Andi Gusti Makkarodda sebagai Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Danau Tempe, beberapa hari lalu.

Jabatan mengalir mulus, seremonial tuntas, foto-foto pun siap edar. Tapi. Sayangnya, air di Kota Sengkang belum ikut merayakannya.

banner 1080x1080

Sejak Minggu malam, aliran air bersih di sejumlah wilayah kota macet total. Keran berfungsi optimal—untuk diuji, dibuka, lalu ditutup kembali. Yang keluar tetap sama: tidak ada.

Dengan Dirut baru, secara struktur PDAM Wajo kini sudah sempurna.

Organisasi rapi, kursi pimpinan terisi, dan harapan publik kembali disegarkan. Namun di lapangan, satu urusan klasik masih tak tersentuh: air tidak sampai ke rumah pelanggan.

Warga pun kembali ke rutinitas tahunan yang seharusnya tak perlu dilestarikan: menadah, menunggu, dan menebak-nebak kapan air “berniat hidup”.

Di Sengkang, air PDAM tampaknya telah menjadi makhluk independen. Ia datang tanpa pemberitahuan, pergi tanpa pamit, dan seringkali tidak bisa ditebak. Ada warga yang berseloroh, mungkin air sedang cuti bersama menyambut tahun baru.

“Pelantikannya cepat, airnya lambat,” ujar seorang warga, sambil memandangi keran seperti menunggu wahyu.

Bagi Andi Gusti Makkarodda, kondisi ini adalah ujian kepemimpinan paling jujur. Tak perlu pidato program seratus hari. Tak perlu jargon transformasi. Publik hanya menunggu satu indikator keberhasilan: air mengalir, titik.

Sebab bagi pelanggan PDAM, direktur boleh berganti, tapi jika air tetap macet, maka yang berubah hanya nama di papan kantor.

PDAM Wajo kini punya Dirut baru. Itu fakta.
Air masih ngadat. Itu juga fakta.

Di antara dua fakta ini, warga Sengkang hanya berharap satu hal sederhana:
semoga air lebih cepat menyesuaikan diri dibanding birokrasi.

Karena di kota ini, kepercayaan publik tidak diukur dari seremoni,
melainkan dari bunyi air yang akhirnya keluar dari keran.(Rani)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x